www.e2consulting.co.id – Bisnis layanan kesehatan tumbuh pesat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dunia, kemajuan ilmu kedokteran, perkembangan obat-obatan dan teknologi di bidang kesehatan. Namun bisnis layanan kesehatan juga mengalami tantangan, antara lain meningkatnya biaya pengobatan dan tuntutan pasien untuk layanan kesehatan yang lebih baik serta penanganan penyakit agar lebih akurat. Para stakeholder yang terlibat dalam layanan kesehatan berupaya meningkatkan nilai usahanya, ditengah lingkungan bisnis yang penuh dengan regulasi. Tiada cara lain, perusahaan harus melakukan transformasi digital.
Transformasi kesehatan mengacu pada proses mengubah secara mendasar cara layanan kesehatan diberikan, dikelola, dan dibiayai untuk meningkatkan hasil pasien, mengurangi biaya, dan meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan.
Perusahaan yang bergerak di bidang layanan kesehatan berupaya menjadi pemain utama dalam ekosistem bisnis layanan kesehatan. Mereka adalah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi kesehatan, penyedia layanan kesehatan (rumah-sakit), penyedia obat-obatan, penyedia medical device, bahkan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang layanan kesehatan. Perusahaan rintisan bergerak mengembangkan berbagai medical devices, aplikasi software serta obat-obatan. Sementara perusahaan legacy melakukan transformasi digital untuk mengambil peluang bisnis yang lebih besar atau melakukan monetisasi uang (monetizing) yang lebih banyak dari pelanggan.
Perusahaan legacy melakukan transformasi digital dengan mengembangkan solusi layanan kesehatan terpadu, untuk membuat pasien lebih mudah mendapatkan pengobatan dan atau mendapat layanan yang lebih baik. Mereka mengembangkan ekosistem bisnis layanan kesehatan untuk menghasilkan solusi layanan kesehatan yang lebih lengkap. Misalnya perusahaan asuransi kesehatan, mengembangkan strategic partnership dengan sejumlah rumah-sakit, perusahaan penyedia medical devices, penyedia aplikasi software dan atau perusahaan farmasi. Demikian pula rumah sakit mengembangkan ekosistem bisnis dengan melakukan strategic partnership dengan pihak-pihak terkait dalam layanan kesehatan.
Salah satu perusahaan yang sukses melakukan transformasi digital di bidang layanan kesehatan adalah Ping-an Tiongkok. Kehadiran teknologi digital telah membawa perubahan yang berarti pada Ping An, khususnya dengan kehadiran layanan internet, smart-phone dan cloud-computing. Pada tahun 2013, digitalisasi dimulai dengan memindahkan komputerisasi layanan keuangan ke sistem cloud computing. Ping An mendatangkan Jessica Tan, mantan konsultan Mc.Kinsey, untuk mengembangkan teknologi dan bisnis digital Ping An.
Ping An melakukan transformasi digital dengan melakukan inovasi berkesinambungan, mengembangkan 5 ekosistem bisnis berbasis gaya hidup manusia, mengandalkan jumlah pelanggan yang sangat besar, mendayagunakan teknologi digital terkini, dan mengandalkan kerjasama tim yang professional.
Beberapa rumah-sakit besar dan perusahaan farmasi juga telah melakukan transformasi digital, mereka berhasil meningkatkan pelayanan kepada pasien dan keuntungan usahanya. Keberhasilan transformasi digital di bidang layanan kesehatan juga diharapkan terjadi di negara-negara berkembang. Perusahaan asuransi jiwa, badan layanan kesehatan pemerintah, rumah-sakit dan perusahaan farmasi, perlu melakukan perubahan yang berarti dalam pengelolaan usahanya, yakni dengan menggunakan teknologi digital, meningkatkan keahlian para dokter, paramedis dan petugas layanan kesehatan serta membangun proses bisnis layanan kesehatan yang efektif.
Khusus untuk Indonesia, rumah-sakit besar, perusahaan asuransi nasional dan BPJS Kesehatan perlu melakukan transformasi digital, untuk meningkatkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas, sehingga layanan kesehatan menjangkau seluruh masyarakat dan pasien tidak pergi berobat ke luar negeri serta BPJS Kesehatan dapat meningkatkan layanan dan efisiensi usahanya.









