www.e2consulting.co.id – Perusahaan besar memiliki karyawan dengan kompetensi SDM yang beragam dan organisasinya terdiri dari berbagai tingkat posisi jabatan atau pekerjaan. Masing-masing posisi atau jabatan tersebut memiliki tugas pokok, antara lain untuk pengembangan bisnis dan perencanaan strategis, pengembangan produk dan layanan, marketing dan penjualan, infrastruktur teknologi yang berupa devices, machines, Network, sistem IT, serta menjalankan sistem pendukung usaha di bidang keuangan, HR, pengadaan dan logistik, legal dan kepatuhan. Setiap karyawan memiliki kompetensi teknis tertentu, yang dikembangkan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.

Dalam menghadapi perubahan yang berarti, perusahaan membutuhkan kemampuan baru, yang berasal dari SDM yang berkompetensi tinggi. Transformasi digital membutuhkan kompetensi teknis, soft skills dan digital business serta budaya baru perusahaan. Keahlian baru ini khususnya diperlukan untuk mengembangkan dan mengoperasikan solusi bisnis yang relevan bagi pelanggan B2C, B2B dan B2B2C.

Setiap SDM perusahaan harus meningkatkan pemahamannya tentang business value chain internal perusahaannya dan customer value proposition, sehingga mereka mampu bekerja secara bersama-sama memperbaiki proses bisnis internal perusahaan dan mengembangkan customer value proposition yang tepat. Seluruh manajemen puncak hingga karyawan tingkat terendah harus memahami tuntutan peningkatan kompetensi ini, khususnya bidang teknologi digital dan teknologi infrastruktur terbaru, digitized business process dan peran baru SDM, khususnya sebagai pemikir strategis.

Kehadiran teknologi datang secara masif berpotensi membuat orang awam menjadi bingung menggunakannya secara tepat guna dalam menunjang kegiatan usahanya. Teknologi tersebut antara lain mesin-mesin industri modern, devices, seperti robot, drone, smart devices, Actual Reality (AR)/Virtual Reality (VR) dan berbagai sensor cerdas berbasis IoT, yang merupakan infratruktur utama bisnis atau untuk keperluan pribadi. Disamping itu terdapat teknologi jaringan 4G/5G dan jaringan wireless lainnya, yang menghubungkan seluruh perangkat sarana produksi dan sistem pendukungnya, sistem pengolahan data berbasis cloud computing, serta berbagai aplikasi software yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan kerja, seperti Industry 4.0, digital twins, digital banking, gov-tech, block-chain dan sebagainya. Dan yang terbaru adalah pemahaman dan penggunaan sistem data management, yakni tentang pengumpulan data dari berbagai sumber untuk di simpan dalam data warehouse dan diolah oleh data-analytics, Machine Learning dan Artificial Intelligent System.

Disamping proses bisnis utama, otomatisasi proses kerja juga telah terjadi di proses bisnis penunjang, dimana pekerjaan rutin dan berulang yang dilakukan manusia dialihkan kepada mesin komputer, yang dikenal sebagai Robot Processing Automation (RPA). Hal ini membuat proses kerja lebih cepat, tepat atau lebih akurat, namun berdampak kepada pengurangan pekerjaan karyawan. SDM perusahaan akan difokuskan kepada pekerjaan yang bersifat strategis, mengawasi pekerjaan robot dan melakukan pekerjaan manual yang sulit dilaksanakan oleh robot.

Perusahaan legacy pada umumnya memiliki kompetensi yang terbatas dalam bidang teknologi, khususnya dalam memahami dan mendayagunakan Network, IT, Cloud computing system, pengembangan software serta manajemen data secara efektif dan efisien. Perlu dilakukan up-skilling maupun re-skilling bagi seluruh karyawan agar mereka mampu mengembangkan inovasi atau solusi bisnis yang tepat bagi pelanggan. Untuk itu perusahaan harus menempatkan program up-skilling dan re-skilling menjadi prioritas utama dari transformasi digital perusahaan.

Perusahaan perlu melakukan pemetaan terhadap semua kompetensi karyawan dan melihat potensi mereka di masa mendatang, serta menyusun program pengembangan kompetensi yang akan dilakukan. Sebagian dari karyawan perlu menjalani program up-skilling, namun sebagian besar memerlukan reskilling, yang membutuhkan upaya yang jauh lebih besar. Kompetensi karyawan harus ditingkatkan secara terus-menerus, agar mereka mampu mengikuti perkembangan perusahaan di masa yang akan datang. Yang tidak kalah pentingya adalah mengelola SDM yang sudah tidak relevan untuk jangka panjang, perlu dipersiapkan exit strategy yang saling menguntungkan.