www.e2consulting.co.id – Penerapan transformasi digital di sektor produksi, khususnya penggunaan aplikasi software Industry 4.0 telah memampukan negara-negara di Asia Timur unggul dalam menghasilkan produk-produk kebutuhan manusia sehari-hari. Perusahaan-perusahaan dari Asia Timur telah berhasil menciptakan produk-produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.
Misalnya, produk-produk dari Tiongkok telah memasuki pasar seluruh dunia, menguasai pasar negara maju maupun negara berkembang. Mereka memiliki skala produksi besar-besaran dan proses produksi yang sangat efisien sehingga mampu menghasilkan produk-produk berkualitas dengan harga yang kompetitif.
Bagaimana negara-negara berkembang dapat meningkatkan daya saingnya, ditengah gempuran produk-produk impor yang harganya murah? Negara berkembang harus membangun kemampuan industri kompetitifnya, yakni mengembangkan produk-produk unggulan yang mampu bersaing dengan produk impor. Untuk itu, negara harus membuat rancangan pengembangan industri jangka panjang yang disesuaikan dengan sumber daya yang dimilikinya. Demikian pula dihitung besarnya potensi pasar dalam dan luar negeri yang akan disasar, sehingga industri yang dibangun layak dari sisi bisnis.
Produk-produk yang bersifat padat karya dikembangkan secara selektif, khususnya untuk memenuhi pasar dalam negeri dan pasar luar negeri yang masih kompetitif. Namun perlu diingat, industri padat karya tidak lagi kompetitif untuk jangka panjang, karena negara-negara maju sudah menggunakan mesin-mesin robot, dikendalikan oleh aplikasi software Industry 4.0, sehingga menghasilkan produk-produk yang lebih efektif dan efisien.
Indonesia sebagai negara berkembang mengalami tantangan dalam pengembangan industrinya. Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030, diperhadapkan kepada jumlah angkatan tenaga kerja yang melimpah, namun kompetensi SDM-nya terbatas.
Pemerintah harus membangun roadmap penyaluran tenaga kerja yang selaras dengan pengembangan industri nasional. Tenaga kerja kasar harus dilatih sehingga mampu mengisi pasar dalam dan luar negeri. Untuk itu, pendidikan vokasi harus dikembangkan untuk memampukan para kaum muda bekerja di berbagai bidang atau sebagai wiraswasta. Pendidikan tinggi dikembangkan secara tepat sasaran, selaras dengan perkembangan industri global. Berbagai keahlian dikembangkan dalam bidang kreativitas digital, digital business and technology, softskills dan kemampuan berinteraksi dengan budaya global.
Untuk pengembangan industri berteknologi tinggi, Pemerintah harus menarik investor asing, yang membawa teknologi dan modal dari luar negeri. Investor asing didorong untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat riset dan basis produksi untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri, sehingga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian terjadi penyerapan tenaga kerja lokal dan pengembangan kompetensi SDM.
Terdapat sejumlah program kerja strategis Nasional yang berpotensi untuk ditawarkan kepada investor asing, diantaranya proyek hilirisasi barang-barang tambang, hasil perkebunan dan perikanan serta sumber daya lainnya, untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi bagi bangsa Indonesia. Misalnya program pembangunan energi baru terbarukan bidang solar-cell, kincir angin, batere dan kendaraan listrik serta energi hidrogen. Demikian pula perlu dikembangkan bio-energi, seperti bio ethanol dari tebu dan bio solar (B-50) dari bahan baku minyak sawit. Proses produksi untuk energi baru terbarukan dan bio energi ini menggunakan teknologi digital dan berbasis Industry 4.0.
Investor atau perusahaan asing didorong untuk bermitra dengan perusahaan dalam negeri, sehingga perusahaan dalam negeri dapat menyerap teknologi baru dan menimba pengalaman mengelola digital company. Demikian pula, kemampuan SDM perusahaan dalam negeri akan meningkat karena terjadi alih teknologi dari mitra kerja asing, sehingga mampu untuk melakukan pengembangan teknologi lebih lanjut. Pertanyaannya, bagaimana caranya mengundang investor asing supaya tertarik berbisnis di Indonesia?









