E2consulting.co.id – Layanan Internet dapat terlaksana berkat adanya Jaringan Telekomunikasi dan IT (Information Technology) yang menyalurkan informasi dari perangkat pengirim dan penerima informasi. Pengirim dan penerima informasi dapat berupa perangkat (devices) seperti smartphone, computer, server, sensor atau mesin. Pertukaran informasi antara pengirim dan penerima informasi dapat terjadi berkat adanya protocol yang saling dimengerti satu sama lain.

Informasi disalurkan melalui Jaringan Telekomunikasi yang berbasis IP (Internet Protocol). Setiap perangkat memiliki alamat IP address sehingga informasi yang dikirimkan dapat mencapai tujuan akhir sesuai dengan IP address yang dituju. Hal ini seperti proses pengiriman surat, ada alamat tujuan dan alamat pengirim.

Jaringan Internet merupakan gabungan dari Jaringan Telekomunikasi dan IT. Saat ini antara Telekomunikasi dan IT sudah menyatu (congergence), karena proses penyaluran sinyal telekomunikasi sudah berbasis kerja komputer.  Jaringan Telekomunikasi dibedakan antara jaringan akses (Access Network) dan Core Network. Jaringan akses merupakan penghubung antara perangkat pengirim/penerima informasi dengan pusat pengelola jaringan (Core Network).  Jaringan akses dapat berupa fixed broadband atau wireless broadband. Di Indonesia, Jaringan fixed broadband disediakan oleh Telkom dan operator penyedia layanan broadband lain, seperti Kabel Vision, Biznet dan Moratelindo. Sementara wireless broadband disediakan oleh Operator Telekomunikasi Selular seperti Telkomsel, Indosat, XL dan Smartfren. Layanan fixed broadband menghubungkan terminal perangkat ke Core Network melalui saluran kabel fisik seperti fiber optik. Sementara layanan wireless broadband menghubungkan terminal perangkat dengan Core Network melalui gelombang radio, dengan perantaraan perangkat RAN (Radio Access Network) yang ditempatkan di menara pemancar BTS. Di rumah dan di tempat tertentu (kantor dan tempat keramaian), terminal perangkat dapat terhubung ke jaringan Internet melalui akses WiFi, yang tersambung ke kabel fiber optik untuk dihubungkan ke Core Network.

Core Network adalah pusat pengelola jaringan, yakni sentral yang mengelola sumber informasi dan menyalurkannya ke tujuan, sesuai dengan alamat dan prioritas penyaluran informasi.

Aplikasi merupakan perangkat lunak (software) yang menyediakan layanan tertentu yang dibutuhkan oleh individu, perusahaan maupun instansi pemerintah. Aplikasi dibangun untuk mempermudah pengguna layanan mendapatkan informasi, melakukan transaksi bisnis (e-Commerce) dan menjalankan pekerjaan dengan lebih efektif dan efisien. Saat ini terdapat jutaan aplikasi yang dipasang di Operating System Android, i-OS maupun Windows. Berbagai perusahaan start-up telah mengembangkan aplikasi untuk memenuhi kebutuhan personal lifestyle, media social, alat bayar, kebutuhan perusahaan dan industri.

Jaringan Internet yang menjadi tulangpunggung penyaluran informasi harus mampu menghadapi pertambahan jumlah pengguna dan konsumsi byte data yang meningkat secara pesat  serta memastikan layanan berjalan lancar dan cepat. Dalam waktu yang bersamaan, terdapat jutaan pengguna yang mengakses aplikasi dan menduduki jaringan Internet. Untuk itu jaringan akses harus dioptimalkan setiap saat, demikian pula kapasitas Core Network harus mampu melayani pertumbuhan traffic yang dinamis. Untuk mengantisipasi kebutuhan kapasitas yang dinamis tersebut diatasi dengan menggunakan Network Cloud Services.

Dengan makin berkembangnya aplikasi yang bersifat kritis (critical mission) seperti aplikasi games, production, manufacturing, real-time services, pelanggan senantiasa menuntut kualitas layanan (QoS-Quality of Service) yang tinggi kepada Operator Telekomunikasi. Perlu adanya jaminan kecepatan data minimum dan delay of transaction (latency)  untuk memastikan layanan Internet berjalan kontinu sepanjang waktu.

Operator Telekomunikasi dan penyedia jaringan broadband melakukan pengawasan jaringan sepanjang waktu (24×7), yakni 24 jam sehari dan 7 hari dalam satu minggu. Mereka menggunakan tools NOC (Network Operation Centre) dan ITOC (IT Operation Centre) untuk memantau kehandalan layanan dan melaporkan gangguan yang terjadi maupun potensi gangguan yang akan terjadi. Demikian pula performansi jaringan dimonitor dan dievaluasi untuk memastikan penyaluran traffic berjalan lancar, melaporkan bottle-neck traffic dalam jaringan dan packet loss yang terjadi. Dari hasil monitoring dan evalusi performansi traffic ini akan dilakukan optimalisasi jaringan dan penambahan kapasitasnya jika diperlukan.

Dalam perencanaan Jaringan Internet, system jaringan dibuat harus handal dan memiliki system cadangan atau redundancy. Misalnya bila system transmisi antara satu titik dengan titik lainnya terputus, maka penyaluran traffic dapat dilakukan melalui titik yang lain. Namun, dalam kenyataannya tidak mudah Operator memastikan redundancy ini, sering kita jumpai layanan Internet di beberapa tempat mati karena system transmisi yang terputus, sekalipun secara logical sudah memiliki redundancy, namun secara fisik belum tentu.

Layanan Internet telah menjadi tulang punggung untuk layanan start-up, e-commerce, perusahaan menengah hingga perusahaan besar. Kegagalan Operator Telekomunikasi menyediakan layanan Internet akan menyebabkan bisnis pelaku usaha terganggu atau berhenti. Bisa dibayangkan, layanan Gojek, Tokopedia, Bukalapak, OVO, LinkAja dan pebisnis online lainnya akan terganggu atau berhenti bila ada gangguan yang berarti. Berapa ratus ribu atau juta orang yang akan terdampak dari gangguan tersebut? Dunia seolah-olah berhenti sejenak. Oleh sebab itu, Operator Telekomunikasi harus memiliki system Disaster Recovery Plan, yang mengantisipasi segala kemungkinan terburuk, seperti bencana alam, pemogokan karyawan, huru-hara, wabah penyakit dan lain-lain.  Untuk itu, Operator Telekomunikasi harus memiliki unit manajemen risiko serta melakukan mitigasi risiko dengan merancang dan menjalankan Business Continuity Plan perusahaan secara sungguh-sungguh.

Disamping kehandalan pelayanan Internet, Operator Telekomunikasi juga harus menjaga kerahasiaan informasi dari pengirim hingga ke penerima dan sebaliknya. Informasi dibungkus khusus (encryption) dengan algoritma yang rumit dan hanya bisa dibaca oleh penerima. Jaringan Telekomunkasi yang memiliki IP address yang terbuka, berpotensi diterobos para hacker atau penyelusup. Untuk itu setiap pintu-pintu masuk ke Jaringan Telekomunikasi dan IT diberi portal-portal pengaman dan Operator Telekomunikasi perlu membentuk unit Security Management yang merancang, mengoperasikan dan mengendalikan keamanan Jaringan Internet.

Perkembangan Teknologi di bidang Telekomunikasi dan IT, devices dan aplikasi menyebabkan setiap manusia dapat bertransaksi atau bertukar informasi secara cepat dan darimana saja. Hal ini dapat terlaksana berkat Jaringan Tulang Punggung Fiber Optik yang menghubungkan Nusantara, baik yang disediakan Telkom, Pemerintah (Palapa Ring), maupun jaringan fiber optik milik operator lainnya. Ke depan, kebutuhan traffic data masih akan bertumbuh jauh lebih cepat, khususnya dengan kehadiran layanan 5G. Pemerintah perlu menata penggelaran jaringan fiber optic di dalam kota, demikian pula antar kota, agar pembangunannya tidak tumpang-tindih. Indonesia harus memiliki pita fiber-optik yang sangat besar, menghubungkan antar pulau, titik-titik aksesnya (PoP-Point of Present) rapat menjangkau kota-kota besar hingga pedesaan.

Mari kita wujudkan dan sinergikan semua sumber daya dalam negeri untuk membangun Jaringan Telekomunikasi dan IT Nasional dengan semangat gotong-royong antar Operator Telekomunikasi dan Kementerian Kominfo. Infrastructure sharing sudah menjadi keharusan, persaingan usaha lebih dititikberatkan di dalam pelayanan pelanggan dan kualitas layanan jaringan. [lumumba]