www.e2consulting.co.id – Menurut Alex Osterwaider dari Strategyzer, perusahaan yang hebat atau tidak terkalahkan (invincible) adalah perusahaan yang mampu menjalankan bisnis legacy dan mengembangkan bisnis baru secara bersamaan. Perusahaan yang tak terkalahkan adalah organisasi yang terus-menerus menemukan kembali dirinya sendiri sebelum menjadi usang. Perusahaan yang tak terkalahkan mengeksplorasi masa depan, sambil unggul dalam mengeksploitasi usaha masa kini. Hal ini dilakukan dengan memupuk budaya inovasi dan kemampuan mengeksekusi, yang hidup secara harmoni di bawah atap yang sama. Perusahaan harus mampu bersaing dengan model bisnis yang unggul dan melampaui batas-batas industri tradisional. Perusahaan dituntut memaksimalkan keuntungannya dari bisnis legacy, yang hasilnya digunakan untuk mengembangkan bisnis baru dan seterusnya, sehingga nilai perusahaan meningkat secara berkesinambungan.
Sungguh menarik melihat perkembangan nilai perusahaan yang berbasis IT (Tech-company) seperti Microsoft, Apple, Nvidia, Alphabet (Google), Amazon dan Meta Platforms (Facebook). Keenam perusahaan ini tidak memiliki nilai aset fisik yang besar, tetapi nilai usahanya sudah diatas USD 1 Triliun. Apa yang membuat perusahaan tersebut bertumbuh sangat cepat dan terus bertumbuh? Jawabannya adalah inovasi berkelanjutan dengan model bisnis yang tepat! Khususnya dalam pengembangan software aplikasi yang menjadi kebutuhan semua orang, perusahaan dan organisasi.
Perusahaan hebat tersebut merupakan tech-company yang dari awal berdirinya sudah menjadi digital company. Mereka mengembangkan produk dan jasa software aplikasi, yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Sebagai perusahaan digital, mereka mendayagunakan teknologi di dalam organisasi untuk menghasilkan inovasi berkesinambungan sehingga menghasilkan nilai-nilai baru dengan berbagai model bisnis, sehingga berhasil me-monetized pelanggan secara efektif. Disamping itu, mereka mengelola pengalaman pelanggan dan membangun kapabilitas internal untuk menjalankan pekerjaan inti (core process) atau operasional usaha yang bermutu sangat tinggi (Operation Excellence), serta menjaring dan memelihara pelanggan dengan berbasis data.
Keberhasilan tech-company yang masih berusia relatif muda menjadi pembahasan di kalangan eksekutif perusahaan legacy besar yang sudah berusia ratusan tahun. Bagaimana mereka dapat bertumbuh besar dalam waktu singkat dan bagaimana kita dapat seperti mereka?
Perusahaan legacy besar kelas dunia mempelajari dan mempersiapkan langkah-langkah menuju digital company, mereka menjalankan transformasi digital secara bertahap, karena mereka tidak dapat berubah secara drastis.
Bisnis legacy harus dijalankan secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan pertumbuhan usaha yang memadai. Namun perusahaan harus secara bersamaan melakukan kegiatan inovasi baru sebagai mesin pertumbuhan usaha masa depan. Tentunya perusahaan legacy memiliki gap atau jurang yang dalam untuk mencapai digital company yang ideal, mereka perlu membangun jembatan menuju masa depan. Bisnis legacy harus dimaksimalkan nilainya dengan penyempurnaan produk atau layanan sehingga lebih berkualitas, lebih produktif dan lebih efisien. Kegiatan marketing dan penjualan dilakukan secara intensif untuk memastikan pencapaian pendapatan usaha yang optimal. Bisnis baru dikembangkan dengan membuat produk, layanan atau solusi bisnis baru, yang dihasilkan dari kegiatan inovasi perusahaan maupun dengan berkolaborasi dengan pihak eksternal.
Ternyata menjalankan transformasi perusahaan legacy tidak mudah. Tidak banyak perusahaan legacy yang berhasil bertransformasi menjadi digital company. Kegagalan terjadi karena berbagai hal, antara lain persiapan dan pelaksanaan transformasi tidak dilakukan secara holistik, sumber daya yang terbatas dan kurangnya kemampuan untuk mengembangkan inovasi bisnis baru. Demikian pula, harapan investor akan hasil bisnis baru yang harus segera menghasilkan pendapatan dan keuntungan, sehingga berpotensi menghambat kegiatan inovasi yang bersifat jangka panjang. Namun ada juga perusahaan legacy yang berhasil menjadi digital company, misalnya Asuransi Ping An di China dan DBS Bank Singapore.

Perusahaan legacy tidak memiliki pilihan, mereka harus melakukan perubahan yang berarti, dengan menetapkan tujuan dan program transformasi, mempersiapkan SDM yang dibutuhkan, serta membangun kemampuan marketing dan penjualan yang sudah berbasis digital serta mempersiapkan pendanaan atau pembiayaan program transformasi digital perusahaan.
SDM merupakan faktor utama keberhasilan bertransformasi, untuk itu perlu dilakukan persiapan di bidang jumlah tenaga pelaksana, kompetensi teknis dan digital serta kemampuan melakukan program transformasi digital.









